"Hope and Believe"

Angklung Eindhoven part I

“We are going to perform Angklung at Made in Indonesia in couple of days, unfortunately we do not have enough people to do the rehearsal” said Desiree. “So.. how many are we?” A moment of silence, then she answered “4 people confirmed, well… we need 15…. Please also ask your friend to join us!!!”

At that moment nobody will know we will have our own concert show in an acoustic hall, artists such as Jamie Cullum, Backstreet boys also perform at the same building. Nobody thinks that we will travel around Netherland to perform Angklung. Nobody has the slightest idea we will perform in front of Ambassador of Indonesia for NL, also we never know that we are part of the performance in front of the king and queen of Netherlands. This is not a story from zero to hero.. This is just a story of a group with passion, a street performer goes to national concert hall…. This is story about us, story about Angklung Eindhoven.

Our first rehearsal ends up in a disastrous moment, most of us do not know basic music knowledge. They could not count beat. And for me…. “Hey.. where is mi? We could not hear mi is playing at many bars, who is playing mi?” asked our conductor, Ida soesanti. I raised my hand and got a private lessons just to make sure I am playing at the right bar. Although I only played 2 angklungs, but it was difficult to play… Argh…. The rehearsals goes for straight 2 hours in those couple of days. Then, the day came, the sport hall waiting for us to perform(yes, it was sport hall with basket rings on edges). We were too focus during our performance, we forgot everything but the notes, all things were empty. Then we heard clapping from the audience. I think we were success at that time. We were so proud…”Yay!!! We made it guys.. we made it!!!!” Took our first pics together, and uploaded our first performance to youtube. You may guess it.. After our first performance nobody talked about angklung… ever….!!!! The deal was one shot that was it…

Sol.....

Sol…..

Later, it was a really cold december…. Whole Eindhoven was covered by the white and pure snow… I was doing my assignment project when suddenly my phone rang. It was from Desiree again. She asks me to continue the Angklung project. I said yes again. Unfortunately, most of us did not join again. Loosing members always a difficult time for any group. On the other hand we found another new members ready to join us.

In a half year we performed at the biggest musical event in Eindhoven, and 1,5 years later we made our first concert… The unfolded future not yet revealed… We were just a bunch of people playing music…

~~(to be continued)~~

nb: You may search some of our performances on https://www.youtube.com/user/AngklungEindhoven or you can join us. We always welcome new members 🙂

Advertisements

Halo.. ketemu lagi.. kali ini Angga mo cerita tentang thesisnya sewaktu kuliah di TU/e, Eindhoven, Belanda. Tetapi karena tema ini cukup besar, maka aku putuskan tuk membaginya jadi beberapa sudut pandang dan bagian. Beberapa waktu lalu Angga pernah berbagi romantika saat mengerjakan thesis di  “Memori…”.  Yang lebih menekankan keadaan emosi Angga pada saat mengerjakan thesis.

Kali ini Angga ingin bercerita dari sudut pandang yang lain. Bagian pertama ini memperkenalkan latar belakang dan beberapa istilah yang digunakan. Bagian kedua bakal menceritakan kenapa sih doi ini keren.. hehe.. *narsis*

Aku sangat tertarik dengan process mining, yaitu teknik dimana kita bisa melakukan analisis terhadap business process berdasarkan log event.  Misalkan saja ada organisasi, contoh Pemda(pemerintahan daerah) mempunyai business process mengenai perjinan mendirikan bangunan. Business process tersebut terdiri dari beberapa event, yaitu submit document, verify document, check house, decision, dan archive. Kejadian-kejadian ini ini akan dicatat oleh komputer dalam sebuah event log.

Workflow

Workflow

Dalam dunia sehari-hari diary(catatan harian) merupakan event log, apa yang telah dilakukan orang tersebut merupakan event. Sedangkan business process merupakan kumpulan apa-apa yang telah dilakukan oleh orang tersebut. Mudahnya, process mining merupakan teknik untuk menganalisis buku harian 😉

Supervisor thesisku, yaitu Wil van der Aalst , semacam godfather di bidang ini. Menurut Google Scholar, Wil adalah salah satu ranking tertinggi computer scientist di Eropa setelah Andrew Zisserman(saat itu dia adalah yang pertama).  Itu pendapat masyarakat umum, beda pula pendapat teman-teman:

“He is really picky… really… really picky…and I mean it…”(Santiago, 2013)

“Why you make your life more difficult?” (Manuel, 2013)

“I told  you not to take him as a supervisor. Why Angga?” (Anonymous, 2013)

“Wil van der Aalst?” *orangnya pingsan tiba-tiba pingsan dan keluar busanya..* G mungkin banget klo yang ini.. Hahaha…!!!

Siang itu aku masuk ke kantor Wil. Dia menanyakan bagian mana yang aku suka dalam process mining. Aku jawab bahwa aku tertarik untuk bagian performa, meningkatkan efisiensi di suatu organisasi.

Wil berkata bahwa untuk mengerjakan thesis ini dibutuhkan kemampuan programmnig yang kuat. Akan tetapi aku lemah dalam pemrograman berorientasi objek. Diberikan waktu sehari bagiku untuk memikirkan ulang apakah aku ingin melakukannya. Tentu saja aku menyanggupinya… “Uh-oh… not a smart move Angga.. Welcome to the most difficult time in your life”.

 

–Bagian pertama selesai–

Budaya dan Bahasa

“Halo apa kabarnya?”

“Hoe gaat het?

“How are you?”

“Pripun kabere?”

Yup… ini merupakan contoh sederhana saja bagaimana orang menanyakan kabar dalam berbagai bahasa.  Sebagian besar hidupku kuhabiskan di Jogjakarta, Indonesia. Besar dan tumbuh di tempat itu membuatku pandai untuk berbicara dalam 2 bahasa, yaitu: Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia.

Seiring dengan waktu aku mulai belajar Bahasa Inggris yang mempunyai hubungan yang sangat jauh dari kedua bahasa itu.  Di awal kuliahku mulai belajar Bahasa Jepang, karena saat itu aku tertarik akan budaya Jepang. Belum selesai belajar Bahasa Jepang, ternyata aku mendapat kesempatan untuk belajar di negeri Belanda, sehingga aku juga menyempatkan diriku untuk belajar bahasa Belanda selama beberapa saat. Disanalah aku juga bertemu dengan banyak orang di penjuru dunia,  dari Tiongkok, Jerman, Amerika latin, Maroko, dll. Masing-masing mempunyai bahasa yang unik pula. Kebetulan juga di saat itu pulalah aku merasakan bahwa aku ingin mempelajari agamaku, yaitu agama Islam, sehingga aku juga berusaha untuk menguasai bahasa Al-Quran, yaitu Arab Klasik(agak beda ama bahasa Arab sekarang).

Dari pengalamanku yang telah bertemu banyak orang dan berusaha untuk belajar berbagai bahasa, aku menemukan pola yang menarik. Misalnya saja kebudayaan Jawa itu terkenal dengan budaya kesopanannya dan menghargai orang yang tua/ yang dianggap lebih tua. Sehingga dalam Bahasa Jawa ditemukan pula tingkatan bahasa, bahasa ngoko, bahasa krama, bahasa krama inggil. Berbeda dengan Bahasa Indonesia yang latar belakangnya adalah persamaan derajat, sehingga dalam Bahasa Indonesia tidak mengenal tingkatan.

Tetapi jika aku berbicara dalam Bahasa Indonesia, aku pun masih punya karakter yang khas, yang tidak setiap orang Indonesia lainnya menggunakannya. Di utara Jogja terdapat gunung, sehingga dalam memberikan arah jalan bagiku sangat mudah untuk menggunakan arah mata angin, karena aku sudah terbiasa memetakan secara spasial.

Di satu sisi aku juga belajar bahasa Asia lainnya, yaitu Bahasa Jepang. Dibandingkan dengan Bahasa Indonesia, Bahasa Jepang mempunyai grammar yang menggunakan kata keterangan waktu untuk membentuk kalimat. Hal ini juga terjadi di Bahasa Eropa, seperti Belanda atau Inggris. Selama di negara tersebut aku menyadari bahwa lama hari itu bisa berubah tergantung pada waktunya, misalkan saja musim panas matahari bisa lebih lama bersinar daripada musim dingin. Bandingkan dengan Indonesia, Malaysia yang relatif waktu sinar matahari relatif stabil. Beda banget kan?? Aku melihat negara yang mempunyai 4 musim, cenderung mempunyai pola bentukan kalimat masa depan, masa lampau.

Selama di Belanda aku juga pernah bekerja sama dengan orang Asia dan Eropa. Disana aku juga mulai membandingkan… dan memang orang Asia itu lebih supel dan simpel dibanding orang Belanda (coba aja belajar grammarnya Bahasa Belanda…. ).

Tuk Arab Klasik itu juga istimewa… Pada sekitar tahun 500-an kekuatan dunia terbagi jadi 2, Romawi di barat, dan Persia di timur, kemudian di tengah-tengah terdapat jazirah arab. Sebagai super power tentu saja mereka ingin memperluas kekuasaan mereka. Tetapi mereka tidak pernah sampai ke Saudi Arabia, kenapa? Mudah aja dulu Bangsa Arab g punya apa-apa cuma padang pasir doang. Jadinya mereka males tuk kirim prajurit mereka kesana. Yang terjadi bangsa Arab terisolir, bahasa mereka pun menjadi “suci” tidak terkontaminasi. Akibat dari gurun sejauh mata memandang, bahasa Arab Klasik pun berkembang menjadi bahasa yang “kaya”, yang dapat menceritakan ke-5 indera dengan sempurna, sangat-sangat detail, penuh aturan, dan penuh imajinasi. Sehingga orang yang bisa membuat puisi pastilah jenius dan diangkat menjadi kepala suku. Orang berkata-kata akan dikritik hingga ke level  mikro. Dengan “keamanan” bahasa seperti itu Al-Quran diturunkan secara verbal. Alhasil? Sepengetahuan penulis sampai sekarang belum ada manusia yang bisa membuat karya dengan Bahasa Arab yang mirip seperti Al-Quran.

Menurut penulis sebenarnya kalau kita belajar bahasa, kita tidak hanya mempelajari bahasanya. Tetapi kita bisa belajar bagaimana budaya bisa mempengaruhi bahasa tersebut, bagaimana alam mempengaruhi bahasa. Ataupun kita bisa mempelajari bagaimana cara berpikir orang tersebut 😀

A Place to Call Home

It was almost pitch black.. “So many people… and so many vehicle… ”   Traffic jams were everywhere as far eyes I could see from my office on 23rd floor. Time showed it was already 17.30, time to go home.

Suddenly the thick cloud turns into rain cats and dogs. I opened my umbrella and walked home, I saw there were many street vendors, the street was lively as ever. I heard athan for Maghrib was announced in all places. I visit one of the street vendors to buy drink to end my fasting.  Then I continued my journey to go home.  As I open the door I usually have dinner with family and talk about what we have done today.

Jakarta from 23rd floor

Jakarta From Alamanda Tower 23rd Floor

My life is so simple isn’t it? For some people, what I just experienced maybe just another ordinary day, a so so day, but for me this is priceless. There was a time where I saw nobody on the street although it is only around 20.00. Most of the shops are closed by 18.00 When it rains the temperature can drop until 1 C… Yup.. drenched with cold water at that temperature was no joke.

Since I am Moslem, there are mandatory daily prayers I need to perform based on position of the sun. In Netherlands it is challenging to perform daily prayer, for example in May the Fajr time at 03.500 and Isha at 23.21. Also, doing fasting is really challenging, the duration is around 17 hours… (+ you need to go everywhere by bike)

Shalat schedule

Shalat Schedule

In the end, the most difficult thing to overcome not the weather, nor the challenge of praying.  But the moment when you got home there was nobody to talk to, no smile when you opened the door, just a cold dark room waiting for you.  I used to live in Netherlands for almost 4 years without family and during that time I never meet with my family.  It was one of the hardest moment in my life.

I am really grateful that I already return to Indonesia and reunite with my family. All those places in Europe may be just an ordinary one, but what makes it special are friends which help me  during those difficult time and because of you I could  find a place to call home.

To all my friends I just want to say thank you from the bottom of my heart.

Friends and Families.

Friends and Families.

Memori…

Di ruangan kelas kulihat jelas bahwa jam dinding menunjukkan 21.20… argh.. tinggal 10 menit lagi tapi les bahasa belanda ini tidak selesai jua… Badan sudah merasa capek dari seharian nge-desain website, pengen aja pulang terus mager. Disaat itu ada diskusi tentang sesuatu(ya… saking udah malesnya bahkan temanya pun dah g tau), tiba-tiba aku mendengar kalimat yang sudah lama tidak pernah kudengar “Ya.. aku tidur 5-6 jam sehari, aku mengorbankan waktu tidurku untuk masa depanku, aku ingin menjadi lebih baik” Blar…!!!! Bagaikan petir menyambar, tanganku tiba-tiba memegang wajahku yang tiba-tiba merasakan dinginnya salju saat itu. Aku berkata kepada diriku sendiri “Ok.. Angga…sekarang ini November 2013, dan bukan Desember 2012.”

Setelah les bahasa belanda selesai, kukayuh sepedaku pulang.. Dinginnya cuaca saat itu, besarnya butiran salju yang mengenai wajahku, juga suasana Eindhoven di kala itu terus beterbangan di kepalaku. Saat itu merupakan salah satu masa yang tak terlupakan dalam hidupku, ya.. apalagi kalau bukan saat mengerjakan thesis.

Memori… karena kemampuan otak yang pas-pasan, hidupku kuhabiskan di perpustakaan dari pagi hingga tutupnya perpustakaan alias dari pagi sampe jam 23.00 yup.. .rumahku perpustakaanku….. sampai bisa hapal jadwal jam berapa wc dibersihin, dan yang bersihin siapa orangnya.. hebat khan…?? *ini penting…klo kebelet udah tau harus lari kemana..haha *.  Sampe rumah paling tidur 6 jam terus gitu lagi besoknya… kecuali weekend, masih bisa masak n fitness bentar 😉

Perpustakaan TU Eindhoven

Perpustakaan TU Eindhoven

Memori…karena merasa sudah g punya waktu selain untuk thesis, sisa waktunya kudu dipake se-efisien mungkin. Jadi…. masak sekali buat makan seminggu *yay…* Gampang banget tuh klo ditanya makan siang laukya apa? Ayam goreng. Makan malam? Ayam goreng. Besok? Ayam goreng.. Setelah seminggu ganti pola yang baru… spaghetti.. spaghetti… dst.  😀 Worst case itu klo roti.. roti.. roti.. kuat paling cuma 3 hari doang.. haha..

Memori.. ada seseorang  yang menawan hatiku.. tetapi oleh karena satu hal… kita g bisa nglanjutin hubungan kita…

Memori… pulang dari perpustakaan ketika salju turun itu istimewa !!!! Kudu coba deh.. pulang kan kepala udah pusing, ketika angin bertiup muka kaya dilempar pasir, apalagi klo turunnya segede jagung.. wuih.. itu bener-bener momen yang tak terlupakan. Tapi di sisi lain klo turunnya pelan, kaya di film-film gitu, iya.. film horor… Enggak-enggak becanda… di saat jalanan lengang dihiasi dengan lampu kota yang bersinar, hampir tidak ada kendaraan, semuanya putih, gumpalan salju turun perlahan, suasananya romantis banget, tapi mo gimana yah… karena single malah bikin tambah mellow ketika salju turun gitu. Eh.. lebih tepatnya sih saat itu “in a complicated relationship with my thesis” 😀

Relationship status(courtesy of phdcomics, taken from 21-1-2011 issue)

Relationship status(courtesy of phdcomics, taken from 21-1-2011 issue)

Memori…. kadangkala di film ada tokoh nerd yang kerjanya di depan komputer, g ngurus badan, kamarnya berantakan, brewokan, bau lagi. “Yeah.. been there too”. Saat itu libur musim natal, perpustakaan tutup akhirnya di rumah cuman di depan komputer 4 hari mandi, g ngomong/chat ama orang lain, kerjaannya cuma mantengin program yang penuh dengan bug.

Memori.. karena pikiran dan hati yang capek dengan segala tantangan, aku mulai memutuskan belajar Al Quran. Mulai dari nol, belajar dari sebab kenapa diturukannya sebuah ayat(asbabun nuzul), tafsir, dll. Wow…Al Quran itu ternyata emang keren. Tapi karena dulu merasa sudah tau dan g mau tau, ya g ketemu-ketemu kerennya dimana 😀

Memori… aku merasa sudah mengorbankan banyak hal demi menyelesaikan thesisku: no weekend, no social life, no girlfriend. Tapi setiap pulang ke kost aku menemukan seorang yang bekerja lebih keras lagi, yang membuatku tetap termotivasi (Makasih Mas Nandra buat contohnya) .

Memori…. *pop*

Pikiranku tersadar, tak terasa sepeda yang kukayuh telah sampai di depan rumah. Akhirnya kuputuskan “Ok.. sudah cukup dengan nostalgianya”. Kubuka pintu rumah dan kumasukkan sepedaku. Bagi beberapa orang, Master hanyalah sebuah nama, tidak lebih dari itu. Bagiku M.Sc adalah sesuatu yang istimewa, bukan dari segi gelar yang kuterima. Tapi aku merasa menjadi orang yang beruntung karena aku diberikan kesempatan untuk memetik pelajaran hidup dari proses mendapatkan M.Sc tersebut. Pahit dan manis perjalanan hidup yang pernah kulalui membentuk Angga menjadi Angga yang kalian kenal. Aku bersyukur akan hal ini…

Klo ada yang penasaran thesisnya Angga kaya apa bisa klik disini, direct ke perpustakaan TU Eindhoven: http://alexandria.tue.nl/extra1/afstversl/wsk-i/hermawan2013.pdf Kapan-kapan tar aku bahas isi thesisku… g janji tapi.. hehe.. 😛

We don’t believe success comes from human effort. We believe effort is a necessary ingredient to qualify for God’s help (NA.Khan)

 

 

As my foot stepped into the hall of the Cengkareng airport, I could see many people running to the gate with their hand luggage. My breath felt heavy since the humidity in Indonesia around 90%. The hall was as familiar as ever, dark cream color with red tiles, through hall glasses I could see green garden all around, a peaceful sights, nothing in the hall had changed in these past 4 years.

It was like a dream to me, I recalled that 20 hours ago I was still staring Netherland’s summer sky with its 25 C temperature. Schiphol Airport was really crowded at that time, next to me was two ladies from USA, they missed their flight to Philadelphia, USA. On my other side there is a Turkish family who would like to have their holiday in Turkey. As I sat on that bench and calling, suddenly I realized its already the time for boarding in to the plane.

It took me 5 minutes to be at the boarding gate since Schiphol is a big airport. In front of the boarding gate I gave my boarding pass to the officer. Somehow it was rejected, the officer told me that the seat was already taken, as for compensation my seat was upgraded into business class. Can you imagine that, a business class for international flight, how great that is.

Tickets

Tickets

The moment I entered Airbus A-380 business class, my eyes couldn’t stop gazing the place. What a cozy place a business class is. Everything is automatic, windows, chair , you name it… Even the chair can transform into a bed(of course I slept on it)…a big flat screen TV in front of me.. and the best and the irony part is a mini bar besides me. Would like to try the mini bar asap but I need to wait for another 4 hours for my fasting to be over.

After 6 hours of cozy flight I arrived in Dubai. The airport was quite big with many restaurants and shops. Wow…. That’s my first impression. Although it is 1 o’clock in the morning, yet the situation was like in the afternoon.  Many different people from different background were walking around. I felt excited and thought “Ok.. starting today and the next few days I’m not a hobbit”. Although I’m 175 cm tall, yet people in NL have average of 183 cm. Yeah.. it disturbs me sometimes.

Business Class

Business Class

In Dubai Airport I met Cindy, a student of hotel management in Switzerland while I was waiting for my plane to Jakarta.  Although she had been there for more than 2 years, but she didn’t like Switzerland. The reasons were the cold weather with its non-stop of snowing, and  expensive price of all things. She said that she felt happy when visiting to Amsterdam, because of the cheap price of stuffs. *yeah right… * For me, Amsterdam is the most expensive city in the Netherland. Well… what can I say… she came from Switzerland, one of the most expensive country to live.

I was picked up by our family’s driver since everybody was busy working at that time. Greeted by Jakarta’s traffic jam at 19.30 finally I arrived at my brother’s house and met with my brothers and their family. Their expression was “Oh.. you’re getting taller and skinnier” What did you do? “Just do a lot of sports… oh yeah.. I lost 5 kg, fasting in NL is around 18 hours during summer”.  After a long journey, some conversations, and a pleasant dinner finally I could lay down on my bed and said  “Welterusten”.

All those memories still remain inside me…^^

The lyrics can be seen in: http://www.jpopasia.com/lyrics/36471/ken-hirai/gaining-through-losing.html