"Hope and Believe"

Archive for July, 2010

Gagap budaya – Iklim, dan Cuaca(bagian 3)

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, sudah 4 musim aku berada di belanda. Masih terngiang dalam pikiranku,  cuaca pagi itu.. agak dingin dengan angin sepoi-sepoi. Walaupun  disaat itu adalah musim panas, tetapi aku yang biasa hidup di negara tropis dengan surga mataharinya merasa bahwa cuaca saat itu dingin seperti di kota Bandung.

Bayangan musim panas di Belanda saat itu rusak begitu saja.. aku selalu berpikir bahwa musim panas orang-orang memakai baju yang minim, karena cuacanya sangatlah panas. Ternyata tidak sepanas yang kubayangkan…. >_<

Kira-kira bulan november, aku bisa merasakan bahwa musim gugur telah datang. Siang semakin pendek, cuaca semakin dingin, hujan semakin sering turun, hampir setiap hari hujan. Kalau di Indonesia aku tidak peduli dengan hujan atau tidak hujan.  Hujan berarti basah itu saja.. tapi disini hujan berarti basah dan kedinginan. Setiap kali aku kehujanan aku merasa disiram dengan air es.

Di satu sisi aku menikmati musim gugur, karena aku bisa melihat  pepohonan daunnya mulai berwarna coklat dan mulai berguguran. Bagiku musim gugur adalah musim yang paling “mellow”, suasana alam di sekitar membuatku sering duduk melamun dibawah pohon.

Ketika di kampus atau di rumah aku sering ditertawakan oleh teman-teman,  suhu yang rata-ratanya tiap hari hanya belasan derajat celcius memaksaku untuk menggunakan kostum yang bagi mereka terlalu aneh. Aku menggunakan jaket tebal dengan penutup kepala, dan jika aku berangkat ke kampus aku sudah menggunakan kaos tangan, bagi mereka pakaian yang kupakai lebih cocok untuk musim dingin. Tapi aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang, karena bagiku guyuran air es dan tiupan air dari ac alami ini lebih menyiksaku daripada perkataan orang-orang tersebut.

Akhirnya saat-saat yang ditunggu-tunggu datanglah. Musim dingin tiba…  Asyik… *hammer* Musim gugur mungkin bisa diibaratkan hidup di dalam kulkas. Maka musim dingin seperti hidup di dalam freezer. Suhu sangatlah dingin, dan kelembapan udara sangat rendah. Kulit jadi rapuh sekali, hampir tiap hari kulitku mendapatkan paper cut walaupun sudah menggunakan pelembab. Sempat juga aku mimisan karena tidak kuat dengan dingin dan keringnya disini. Klo di Indonesia kita tinggal krupuk di luar, maka dalam hitungan jam saja, krupuk sudah mulai amem, nah.. klo disini mo ninggalin krupuk di luar, g bakalan amem seminggu… !!! Saking keringnya udara..

Pertama kali aku melihat salju.. “Wah.. asik salju…. Indahnya…” Ternyata salju itu mirip  es serut..  =p Dengan suhu yang sangat dingin.. maka salju itu seakan-akan kering seperti pasir, dan jika mengenai baju, kita tepuk-tepuk baju kita, maka saljunya akan rontok semuanya(g jarang juga.. waktu naik sepeda kelilipan mata karena salju).

Nah.. klo salju dah agak cair dan tiba-tiba suhu turun lagi.. maka saljunya jadi es.. saat ini dibutuhkanlah keahlian bersepeda/berjalan + keseimbangan yang sangat-sangat baik (biar g terpeleset.. ^^) Pernah sekali waktu, salju turun sangat lebat. Waktu tempuh kampus dan kos-ku kira-kira 10 menit, dengan turunnya salju aku membutuhkan waktu hingga 20 menit. Karena saat itu mata susah dibuka karena pasti kelilipan salju, mengayuh sepeda juga berat karena tiupan angin yang kencang dan salju yang menumpuk di jalan.

Bayanganku ketika salju turun maka udara semakin dingin, ternyata salah, aku perhatikan klo salju turun maka udara lebih “hangat”.  Aku masih ingat sampai hari ini, sabtu pagi, cuaca cerah, hampir tidak ada awan. Hari itu aku pergi belanja di pasar. Ketika berangkat aku merasakan cuaca lebih dingin daripada biasanya tapi aku nekat saja pergi. Setelah beberapa saat, aku merasakan sesuatu yang berbeda, tanganku terasa terbakar.. perih sekali.. kaki pun merasa demikian. Ketika sampai di rumah, aku hangatkan tanganku, huf.. akhirnya aku bisa menggerakkan lagi jari-jariku. Kemudian aku mengecek sebenarya suhu di luar berapa..dan ternyata saat itu adalah -13 C!!!!  Hari-hari berikutnya yang tanpa salju aku perhatikan juga begitu, biasanya kurang dari -5 C. Tetapi jika salju turun, suhu sekitar -2 C (karena dingin, kadang kala aku malas memasukkan bahan makanan ke dalam kulkas, jadinya aku taruh saja di teras..toh sama aja..  hehehe… )

Hari itu aku terbangun oleh nyanyian burung. Yup.. musim semi telah datang. Burung-burung yang dulunya bermigrasi sudah kembali.  Cuaca mulai menghangat, pucuk-pucuk daun mulai keluar, dan bunga-bunga pun mulai bermekaran. Sungguh sangat indah musim semi disini, dimana-mana aku bisa melihat bunga. Di Belanda ada  kota penghasil bunga tulip terbesar di dunia. Di kota itu, padang bunga menghampar sejauh mata memandang seperti di dongeng anak-anak. Aku sampai tidak percaya bahwa ada  suatu tempat yang indahnya seperti itu.

Kebanyakan orang yang sudah lama tinggal di Belanda mengatakan bahwa iklim dan cuaca di Belanda sudah berubah, musim dingin di Belanda, biasanya jarang salju, dan tidak sedingin itu. Musim panas ini pun berbeda dengan musim panas sebelum-sebelumnya suhu maksimal sempat sampai 36 C, dan hujan sering turun dengan lebatnya layaknya di negara kita. Banyak orang mengatakan global warming telah mengubah pola iklim disini.

Gagap budaya – Waktu, dan Janji(bagian 2)

Technische Universiteit Eindhoven

Aku melihat jam yang berada di atas meja, ternyata waktu telah menunjukkan 10.20.  Dengan perasaan yang campur aduk segeralah aku bergegas menuju kampus karena dalam waktu 25 menit lagi resmilah hari aku menjadi mahasiswa yang kuliah di Technische Universiteit Eindhoven(TU Eindhoven). Jarak antara kosku dan kampus kira-kira sekitar 2,3 km atau sekitar 10-15 menit berjalan kaki.  Masih kuingat hari pertama kuliah adalah hari pertama untuk puasa juga, aku agak sedih juga dengan keadaanku yang masih jetlag, sehingga aku kesulitan untuk melakukan ibadah puasa.

Kulangkahkan kakiku menjelajah jalanan yang tak kukenal dengan bantuan peta(takut nyasar, padahal ya deket hehehe….). Lokasi kampusku berada tepat di pusat kota, bersebelahan dengan stasiun kereta api. Pusat kota identik dengan pusat perbelanjaan dan toko, dan bar. Kulihat toko pakaian dan toko kelontong di sepanjang jalan sudah ramai dengan pengunjung. Yang menarik di Belanda adalah tidak ada semacam Mall yang gede-gede penuh dengan gerai atau food court. Gedung perbelanjaan terbesar di Eindhoven  hanyalah sebesar sebuah department store yang berada di maliboro, jogjakarta. Mungkin ada yang berpikir bahwa Eindhoven adalah kota kecil di Belanda, sehingga tidak ada pusat perbelanjaan yang besar, tetapi kota ini merupakan kota kelima terbesar di Belanda setelah Amsterdam, Rotterdam, Den Haag, dan Utrecht, tetapi jumlah penduduknya tidaklah lebih banyak dari kota jogjakarta.

Sampailah aku di ruangan kelas, dalam 5 menit lagi kelas akan dimulai. Aku lihat bahwa para mahasiswa sudah bersiap untuk mengikuti pelajaran. Serasa masih berada di bangku sekolah menengah, tiba-tiba bel tanda bahwa kelas telah dimulai menggema di seluruh ruangan. Di tengah pelajaran aku menyadari sesuatu yang sampai saat ini aku masih terkagum-kagum, yaitu tidak ada mahasiswa yang terlambat masuk ke dalam kelas.

Setiap pelajaran rata-rata 2×45 menit. Dan tiap 45 menit disisipi dengan 15 menit istirahat. Materi yang kudapat selama 45 menit itu sangatlah padat, blum pernah aku mengalami kuliah seperti ini, kepala sudah penuh dengan informasi -_-”

Orang disini berpendapat bahwa waktu sangatlah berharga, sehingga mereka berusaha untuk membuat waktu se-efisien mungkin. Dalam kuliah-kuliahku berikutnya ada kejadian yang belum pernah aku jumpai di tanah kelahiranku. Biasanya ketika materi yang dibahas untuk minggu itu telah selesai untuk dibahas,maka dosen akan membubarkan kuliah dan meneruskan minggu depan. Yang kualami disini, ketika materi telah selesai dibahas, maka dosen akan meneruskan kuliah dan membahas materi untuk minggu depan.. wah..wah..padahal waktu itu aku berpikir untuk pertama kalinya aku bisa pulang pagi.. 😛

Dalam perkuliahan seringkali aku mendapat tugas kelompok. Ketika kita membuat janji untuk mengerjakan tugas yang kuperhatikan adalah orang belanda selalu mengeluarkan buku kecil yang berisikan janji mereka. Hari itu kita berjanji bertemu pada waktu jam 1 di perpustakaan. Maka sebelum jam 1 dia sudah datang, karena aku datang tepat jam 1 kurang 1 menit.

Ketika dalam mengerjakan tugas, rata-rata orang disini tidak pernah yang ada namanya “nyambi” alias melakukan sesuatu hal yang lain. Mungkin bagi kita wajar tuk mengerjakan tugas disisipi dengan membuka facebook.. hehehe.. tapi ketika mereka bekerja benar-benar fokus.. tidak sedetik pun aku melihat dia melakukan pekerjaan yang lain. Begitu pula ketika waktu yang telah ditentukan selesai, misalnya saja 2 jam waktu pengerjaan tugas, ketika waktu itu berakhir biasanya mereka tidak mau melakukan pekerjaan itu lagi. Karena dia telah merencanakan waktu beriktunya untuk kegiatan yang lain.

Kehidupan orang disini dipenuhi dengan  janji dan merencakan waktu. Janji dalam mengerjakan tugas atau bertemu dosen itu mungkin masih wajar di Indonesia , tetapi disini janji lebih dari itu.  karena  bahkan untuk potong rambut, haruslah buat janji dengan tukang cukurnya itu..hehehe..Melanggar janji, misalnya saja terlambat dalam pertemuan, walaupun 5 menit saja, itu sudah merupakan penghinaan dan sesuatu yang kasar.

Waktu seperti sungai yang mengalir,  kita yang terapung di sungai itu tidak mampu untuk kembali ke masa lalu atau melompat ke masa depan. Tidak heran jika janji, efisien dalam mengerjakan sesuatu adalah salah satu hal yang terpenting dalam kehidupan mereka.

Gagap budaya – Arrival, Housing, dan Toko (Bagian 1)

Arrival

Sampailah di negeri orang dengan koper yang besar-besar segede gajah, dari airport schiphol yang dilakukan berikutnya adalah meuju ke kota yang diinginkan. Teman2 bisa menggunakan jasa kereta api atau bus. Bagi teman2 yang sampe disini enggak dijemput sama seseorang, maka sejak dari Indonesia pun kita bisa merencakannya menggunakan situs http://ns.nl/ untuk kereta api, atau situs http://journeyplanner.9292.nl/ untuk kendaraan publik lainnya.

Sampai di kota tujuan, menikmati empuknya tempat tidur setelah perjalanan yang melelahkan adalah yang diinginkan. Ternyata sampai disini hari minggu. Maka yang harus dilakukan adalah menunggu hingga hari senin dengan tidur di hotel sampai hari senin, karena hari minggu di Belanda, hampir tidak ada orang yang bekerja kecuali pada sektor-sektor vital. Wajar saja jika pemilik kos, rumah atau apartemen biasanya tidak akan membuat janji penyerahan kunci ruangan pada hari minggu.

Tiba-tiba ketika di hotel perut berbunyi “krucuk..krucuk.. ” Keluarlah dari hotel tuk mencari makan karena makan di hotel akan sangat mahal. Walaupun restoran disini pun tidak ada yang lebih murah. Perbandingan harga antara makanan di restoran dan di supermarket bisa sampai 5 kalinya.

Di Indonesia jika belanja di supermarket biasanya kita cukup modal dompet aja. G perlu bawa apa-apa, plastik disediakan dan barang-barang kita ditata rapi oleh kasir. Tapi ini Belanda.. bukan di Indonesia.. plastik disini merupakan hal pencemar, jadinya orang jarang menggunakan plastik… untuk menggunakan tas plastik kita harus membelinya sekitar 10 sen, untuk mengirit lebih baik bawa tas dari rumah.

Barang-barang yang sudah kita beli nantinya hanya dibiarkan saja oleh kasir.  Kiita harus mengemas barang-barang sendiri. Repotnya sih klo barang belanjaan kita banyak dan orang-orang yang mengantri dibelakang kita juga g begitu sabar. “Kenapa juga kasir g mau bantuin kita kemas barang.. kan bisa lebih cepat.. dan g bikin antrian yang panjang” pikir kita.

Tuk membayar SDM disini sangatlah mahal. Ini juga alasan kenapa seringkali kita melihat mesin penjual minuman, tiket, dll. Karena biaya perawatan dan pengoperasian mesin-mesin tersebut lebih murah daripada biaya untuk mempekerjakan seorang karyawan.

Waktu buka toko atau supermarket disini sangatlah terbatas, setiap harinya rata -rata mereka buka dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore. Mungkin teman-teman bertanya-tanya kenapa sih.. orang sini males2.. buka toko aja g becus.. cuma sampe sore.. g niat jualan apa.. Alasan dibalik semua ini adalah pemerintah ingin orang tua bisa menemani anaknya di rumah.  Jadinya jam 6 keatas adalah waktu keluarga bagi mereka.

Hari berikutnya akhirnya bisa menemui pemilik rumah. Setelah kunci ruangan diberikan yang menyambut bukanlah tempat tidur yang empuk, tetapi ruangan yang tidak begitu bersih, atau toilet yang kotor.  Harus kerja bakti dulu sebelum menikmati kasur yang empuk, beruntunglah bagi teman2 yang bisa langsung mendapatkan ruangan yang bersih ketika sampai disini. Orang belanda menganggap bahwa jika orang sudah masuk ke universitas dapat bertanggung jawab kepada dirinya sendiri, masalah bersih2 inipun menjadi kewajiban pemilik ruangan.

Orang belanda punya pedoman dalam hidup, yaitu “Do it yourself “. Kita pun harus mengikuti pedoman ini, akan susah bagi kita klo enggak bisa hidup mandiri di negeri orang.

Sistem pendidikan di belanda

Semalam aku menikmati makan malam bersama temanku orang belanda, orang italia, dan orang cina… diluar hujan deras menambah nikmatnya sup tahu yang hangat, terasa hingga ke seluruh badan.. Topik yang dibicarakan pun hangat juga, yaitu sistem pendidikan di belanda.

Sistem pendidikan di belanda, courtesy of wikipedia

Sistem pendidikan di belanda sedikit berbeda dengan indonesia. Jika di Indonesia, rata-rata orang belajar 3 atau 6  tahun setelah SD, maka di belanda belum tentu setiap orang harus menempuh jalur itu. Ketika orang belanda lulus dari elementary school, maka nasib mereka sudah mulai ditentukan dari sini. Mereka akan mengikuti semacam ujian. Dari hasil ujian itu akan dibagi menjadi 3 level, yaitu VMBO, HAVO, dan WO.

Jika siswa itu mempunyai kemampuan akademis yang rendah maka sejak awal mereka diarahkan untuk mengikuti VMBO selama 3 tahun dan MBO selama satu tahun. Setelah lulus dari MBO  siswa dapat langsung bekarja.

Jika siswa itu mempunyai kemampuan akademis yang lebih baik, maka dia dapat mengikuti HAVO selama 5 tahun. Setelah lulus dari HAVO siswa dapat mengikuti HBO, di Indonesia mungkin setara dengan universitas juga, tetapi yang membedakan universitas dan HBO adalah HBO lebih menggunakan ilmu terapan. ( Tuk gelar HBO biasanya universitas tersebut bergelar dengan Hogeschool )

Siswa yang mempunyai kemampuan akademis tertinggi, berhak mengikuti WO selama 6 tahun dan kemudian dapat mendaftar Universitas, layaknya sistem pendidikan di Indonesia.

Jika siswa dari tingkatan yang lebih rendah ingin mengikuti sistem pendidikan yang lebih tinggi mereka dapat mengikuti program standarisasi.

Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah bagaimana dengan gaji yang mereka terima dalam pekerjaan, apakah berbeda antara level  yang satu dengan yang lain? Jawabannya ya, ada perbedaan, tetapi perbedaan upah ini tidak seperti langit dan bumi yang kita alami di indonesia. Perbedaan itu tidak terlalu signifikan sehingga menimbulkan kecemburuan sosial. Keadilan benar-benar ditegakkan sehingga kemakmuran di negeri ini benar-benar merata. Menurut pribadi penulis, Indonesia pun bisa lebih makmur daripada negara ini, asalkan keadilan ditegakkan dengan sungguh2. Kita punya sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang sangat besar, kurang apalagi coba? Mari kita bangun Indonesia.. !!!!

Tiket, Paspor dan Visa juga sudah.. Apalagi yg harus dipersiapkan sebelum berangkat belajar ke luar negeri?

Hampir setaun yang lalu aku menjejakkan kakiku di negeri penjajah ini. Tepatnya tanggal 23 Agustus 2009 dimana aku harus berpisah dengan tanah airku dan orang-orang yang kucintai. Bagi temen2 yang akan berangkat ke luar negeri mungkin bertanya2 apa saja yang harus dipersiapkan sebelum berangkat.

1. Mental

Bagi temen2 yang blum pernah jauh dari ortu, atau hidup mandiri harus bener2 dipersiapin yang satu ini, karena enggak sedikit juga yang sampe diluar negeri homesick atau lovesick. Untuk mengatasinya harus segera cepat adaptasi dengan lingkungan sekitar bisa dengan cari teman disini sebanyak-banyaknya atau sebelum berangkat ke negara tujuan sebaiknya mengenali budaya di negeri tersebut agar tidak gagap budaya. Teknologi seperti skype, ym, facebook bisa mengurangi rasa kangen terhadap tanah air atau orang yang dicintai.

2. Fisik

Biasanya mahasiswa kita di luar negeri jarang yang punya kendaraan motor pribadi, kemana-mana pasti jalan, naik sepeda, atau transportasi umum. Bagi orang yang jarang olahraga, kadang2 ini jadi penghambat tuk belajar di kampus, karena begitu sampai kampus badan sudah capek. Ditambah lagi dengan tugas yang menumpuk dan tidak bisa diselesaikan hanya dalam satu atau 2 hari saja. Sebaiknya sebelum pergi ke luar negeri, rajin-rajinlah berolahraga.

3. Barang Bawaan

Dengan batasan 25 kg dalam bagasi pesawat kita harus benar-benar mempertimbangkan apa saja yang sebaiknya dibawa. Dulu waktu berangkat ke belanda, inilah yang kubawa

  • Celana 3 pasang, 1 jeans, 2 celana kain
  • Kaos 10 buah–> Aku suka pake kaos
  • Kemeja 10 buah
  • Pakaian dalam 10 buah
  • Obat-obatan pribadi
  • Peralatan mandi
  • Pelembab
  • Lip gloss(laki2 juga perlu, karena disini udaranya sangat kering)
  • Jaket musim dingin 1 buah
  • Alat tulis(bisa beli di belanda tapi lebih mahal)
  • Raket tenis 1 buah–> Wajib bagi penggemar tenis 😀
  • Kamera poket 1 buah
  • Sarung tangan 1 pasang
  • Sepatu 1 pasang
  • Sarung 2 buah
  • Sandal 1 pasang
  • AlQuran
  • Sajadah
  • Akte kelahiran
  • Acceptance Letter
  • Ijazah
  • Laptop + Hard disk eksternal
  • Klo laki2 dan mo ngirit bisa beli pemotong rambut dari indonesia. Karena ongkos potong rambut mahal di belanda

Jangan lupa kita masih diberikan tambahan bagasi berupa tas kecil yang bisa diisi dengan 5 kg barang ^^

D-day and the day after

Final Piala Dunia 2010 Belanda vs Spanyol

Pakaian orange sudah kupakai dan minuman sudah kumasukkan ke dalam tas. Ya.. hari ini adalah pertandingan antara belanda melawan spanyol. Walaupun aku bukan penggemar timnas mereka, tapi aku sangat penasaran dengan pertandingan ini.

Kebetulan aku tinggal dipusat kota eindhoven, sehingga untuk menuju ke tempat nonton bareng itu kira-kira 15 menit berjalan kaki. Dalam perjalanan aku melihat banyak orang menggunakan atribut warna orange, dari topi, kaos, kacamata, bahkan bra berwarna orange(ini belanda bung 😛 ).  Kota pun tidak mau kalah dengan penghuninya. Bendera merah putih biru dikibarkan, tidak lupa dengan bendera kecil warna orange sebagai lambang timnas mereka.

Aku melalui jalanan yang penuh dengan bar, sungguh sangat sesak jalanan itu, seperti di pasar malam saja. Bau alkohol dari bir sangat menyengat. Setelah berhasil melewati kerumunan itu tepat pada waktu 20.15 aku bertemu dengan teman-temanku, andi, agni, tofan, dan mas adi. Kita bergegas untuk mencari tempat, karena 15 menit lagi pertandingan akan dimulai, para pemain telah masuk lapangan dan orang-orang sudah menyanyikan lagu kebangsaan mereka. Pada pertandingan sebelumnya ada temanku yang ketika mereka menyanyikan lagu kebangsaan, dengan bangganya ia menyanyikan lagu indonesia raya..hehehe..

Akhirnya dengan susah payah kita berhasil mendapatkan tempat yang enak dan bisa tuk nonton.. maklum orang belanda itu rata2 orang tertinggi di dunia, 181 cm untuk laki2 dan 168  cm untuk perempuan (Wikipedia)

Peluit tanda pertandingan dimulai telah ditiup, orang-orang menyanyikan lagu-lagu dan terteriak yel-yel. Ketika xabi alonso ditendang oleh nigel de jong tidak kusangka kerumunan itu malah tertawa -_-” Tapi kerumunan yang ramai ini berubah 180 derajat ketika tendangan iniesta berhasil membuahkan gol. Suasana sempat seperti di kuburan, orang diam seribu bahasa. Sejenak kemudian terdengar suara “Öh.no.. !!”  Suasana semakin tegang mendekati detik-detik terakhir. Sampai pada akhirnya peluit panjang tanda bahwa pertandingan sudah berakhir dibunyikan.

Tidak ada kembang api yang dinyalakan, tidak ada suara terompet. Yang ada hanyalah orang-orang berwajah muram dan bersedih. Kerumunan orang itu akhirnya membubarkan diri. Dalam perjalanan pulang ada orang yang begitu sedihnya membakar semacam “flare” dan melemparnya ke jalan, hampir saja celanaku jadi korban 😦

Suasana hari berikutnya jalanan lengang, seakan hari senin itu adalah hari berkabung nasional. Lagu waka-waka yang biasanya menghiasi alunan di sekitar rumahku tidak terdengar. Orang-orang sebenarya cuti untuk merayakan kemenangan timnas mereka, tapi kenyataan berbicara lain, bukanlah kemenangan yang mereka dapat, tapi kekalahan yang sampai hari ini masih terasa di hati mereka.