"Hope and Believe"

Archive for September, 2010

Latihan angklung, Made in Indonesia(the act), Perbaikan rel kereta

Minggu ini adalah minggu yang menyenangkan dan melelahkan bagiku. Hampir setiap hari berlatih main angklung untuk persiapan pertunjukan Made in Indonesia. Lagu yang dimainkan adalah O solemio, Edelweiss(hm.. teringat masa lalu.. ), dan La Paloma. Ketika menerima angklung kulihat no 10(nada a rendah) dan 3(nada e).  Sangat senang… lalu partitur dibagikan, pertama kali liat aku kira ada yang salah dengan partiturnya. Kenapa partitur itu dipenuhi dengan nada e dan nada g. Waks….. dari senang.. menjadi tegang…. Benar.. sudah setaun lebih aku tidak memegang alat musik membuat konsentrasi terhadap partitur mudah runyam. Mbak Ida sebagai konduktor, sering bertanya-tanya “dimana nada e(mi-nya)??” Andi teman serumahku memegang angklung yang memainkan sol mengalami nasib yang sama.  Jadi bulan-bulanan ejekan teman-temen yang lain.. :: sial… ::  Akhirnya 2 nada ini diberikan latihan privat oleh mbak Desi dan lulus tuk semua lagu deh..  😀 (Makasih ya mbak.. kami tidak akan lupa jasa-jasamu…. :: halah :: )

Latihan privat 🙂

Akhirnya hari-hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Ketika hendak berangkat menuju tempat pertunjukan tuk gladi resik, tiba-tiba di rumah ada masalah dengan pipa sehingga membuat lantai kamar andi dibongkar, rencana gladi resik kami tertunda, kami juga harus mengadakan “”kerja bakti” di dalam rumah dahulu. Hampir semua lantai tergenang air kamar mandi yang penuh dengan bakteri-bakteri.. :: sabar.. sabar.. ::

Selesai dengan kegiatan tak terduga ini dengan tergesa-gesa kami mengayuh sepeda, di tengah jalan aku sadar bahwa dompetku tertinggal di rumah… waks.. mengayuh sepeda (lebih cepat lagi)ambil dompet, ketika di tengah jalan, tiba-tiba tes.. tes.. waks.. hujan..!!!! Pakai mantel.. dan mengayuh sepeda (sangat-sangat lebih cepat.. ) :: hosh.. hosh… :: Akhirnya sampai disana tepat tinggal satu kali perulangan lagi sebelum kita pentas..huf.. :: lega.. ::

Setelah gladi resik usai, peranku sebagai pemain angklung berakhir sementara, dan berganti peran sebagai seksi protokoler menemani pihak international affair dari pihak kampus Tu/e. Aku kira yang akan datang ibu-ibu atau bapak-bapak yang umurnya sudah uzur, ternyata yang datang nona Marleen yang cakep dengan mata abu-abu dan rambut blonde 😛 (g jadi bosen deh…)

Akhirnya… yang ditunggu-tunggu tiba kembali menjadi pemain angklung. Pentaslah kami, setiap mata memandang..  Lagu O solemio.. lolos.. Edelweiss.. waks… satu-dua hilang entah kemana.. La paloma.. panik… banyak yang hilang.. tapi untungnya semua berjalan dengan lancar dengan beberapa nada yang  terlupakan.. hehehe.. 😀

Sol.....

Hari berikutnya aku mengerjakan tugas visualisasi, sebagian tugas sudah hampir selesai untungnya tinggal menulis laporan saja.  Sorenya aku pergi ke Maastricht untuk menjenguk temanku, arina, yang sedang sakit, tapi dalam perjalanan kesana ada perbaikan kereta, waktu tempuh yang dibutuhkan lebih lama, dan ditengah perjalanan menggunakan bus sebagai kompensasi. Berita baiknya adalah pemandangan baru dan suasana baru.

Tugas visualisasi

Dalam perjalanan pulang aku mengalami kejadian yang tak terduga(lagi).  Aku tertinggal bus, sehingga harus menunggu 30 menit tambhan di halte, saat itu suhu masih lumayan hangat, diatas 10 C. Beruntung sesampainya di stasiun, ternyata kereta datang lebih cepat, sehingga aku bisa masuk ke dalam gerbong dan mengerjakan tugas dengan suasana dan teh yang hangat.

Ketika sampai di Sittard, setiap penumpang transit menggunakan bus. Bus disini sangat tertib, karena setiap penumpang diingatkan untuk menggunakan sabuk pengaman. Dalam waktu satu jam sampailah bus kami  di Marheeze yang seharusnya  datang 10 menit lebih awal, segera setelah turun dari bus, aku berlari dengan kencang dari kejauhan terlihat kereta sudah berhenti di stasiun, dan tiba-tiba terdengar peluit dari kondektur, kereta berjalan meninggalkanku dengan pelan dan percikan bunga api yang terlihat jelas.

Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 malam, suhu sudah mulai tidak bersahabat mungkin yang tadinya 10 C saat itu sudah turun ke 7 C. Terdengar banyak sekali umpatan dari para penumpang yang sangat kesal ketika mengetahui kereta berikutnya datang sekitar 25 menit lagi.

Disaat penuh kekesalan dan kemarahan, tiba-tiba datang seorang pasangan dengan anaknya dalam gendongan. Dari raut mereka tidak tampak ada tanda-tanda mengeluh atau merasa kesal. Sang ayah terlihat sabar menggotong kereta bayi, dan mengetahui keadaan seperti ini, dengan sigapnya kereta bayi itu dirangkai kembali. Sang ibu kemudian meletakkan sang bayi dalam kereta itu, dan membongkar tasnya mencari selimut tambahan untuk sang anak. Selama masa penantian datangnya kereta, mereka terlihat melindungi sang bayi dari tiupan angin dingin yang kencang.

Aku merasa malu… disaat hatiku marah dan menyalahkan keadaan, ada orang yang dengan sabar dan tulus  menerima keadaan, tidak berhenti sampai disitu, orang itu bahkan berusaha melindungi orang yang dicintainya apapun yang terjadi…. (terbersik dalam hatiku “Betapa rendahnya diriku”)  Sekarang aku sangat berterima kasih kepada Allah karena telah membuat bus itu datang terlambat  sehingga aku diingatkan(lagi.. dan lagi.. )bahwa semuanya berawal dari keikhlasan dan kesabaran 🙂

Advertisements

Puasa, Awal kuliah, Made in Indonesia

Akhirnya setelah sekian lama puasa (beneran sama puasa ngeblog) akhirnya bisa kembali beraktivitas seperti biasa.  Selama puasa dan seminggu setelah puasa saya agak kesulitan dalam membagi waktu karena harus menyesuaikan jadwal perkuliahan baru. Puasa disini saat musim panas sungguh lama…. masih teringat bahwa subuh jam setengah 4 pagi, dan maghrib jam setengah 10 malam.  Walaupun lama, tetapi puasa disini tidak sepanas di Indonesia. Hari-hari puasa diisi dengan pergi ke masjid, bukan karena saya orang yang sangat religius, tetapi karena masjid disini menyediakan menu berbuka puasa 4 sehat 5 sempurna secara cuma-cuma.. hehehe..  😀

Di masjid bertemu berbagai macam orang, orang turki, pakistan, india, belanda, dll. Walaupun kami berbeda latar belakang, entah kenapa saya merasa bahwa mempunyai keluarga disini. Kata-kata “hi, brother” bukan hal yang asing ketika berada di masjid itu. Mereka juga memperlakukan kami bagai tamu kehormatan mereka(mungkin kita dianggap sebagai musafir ya.. jadinya dapet prioritas)

Fatih Mosque

Tak terasa satu bulan itu berakhir sudah, hari-hari menikmati masjid berlalu sudah. Saat idul fitri saya tidak melaksanakan shalat ied, idul fitri saya nikmati dengan mengayuh sepeda coklat tua tercinta untuk berangkat ke kampus, kuliah dan mengikuti seminar. Untunglah siangnya disela-sela kuliah itu saya bisa “melarikan diri” setidaknya untuk ikut silaturahmi dan ikut makan-makan bersama teman-teman 😀

Aachen Townhall

Hari lebaran tidak ada sesuatu yang spesial, oleh karena itu hari berikutnya saya pergi ke maastricht dan aachen. Disana saya bertemu dengan arina, michael, intan, anisa, dan teman-teman maastricht lainnya. Bangunan tua dan suasana jaman pertengahan eropa sangat kental di kota itu.  Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan. Paling tidak sedikit menghibur hati saya yang sedang kangen dengan suasana hingar bingar di Indonesia.

Maastricht at Night

2 Minggu kuliah pertama ini terasa sungguh spesial, karena sudah 2 bulan lamanya saya tidak kuliah. Kuliah semester ini sangat menarik dari kuliah visualisasi disuruh gambar kodok dan bagian dalamnya. Sampe diajar mengenai data mining sama dosen tamu mantan pemain timnas sepak bola yunior belanda. Pusing…  tapi seneng… Di semester ini sudah mempersiapkan judul thesis saya, dan berencana untuk mengambil topik tentang adaptive systems, sistem yang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar. Tampaknya menantang.. ^^

Made in Indonesia

Selain melakukan kuliah, kami, para mahasiswa indonesia di Eindhoven juga melakukan kegiatan lain. Kami berencana untuk menggelar pertama kalinya event perkenalan budaya Indonesia di Eindhoven, yang berjudul Made in Indonesia. Event ini rencananya digelar minggu depan dan akan menampilkan musik indonesia, makanan indonesia, dsb. Dalam acara ini saya juga tidak ingin ketinggalan untuk sumbangsih untuk Indonesia dengan bergabung dengan tim angklung(belum pernah main angklung seumur hidup)semoga saja tetep kedengaran bagus.. hehehe..  😛 (airlangga)