"Hope and Believe"

Archive for July, 2011

Angklung on Pasar malam Asia, Eindhoven.

Can’t wait for the next performance

Melarikan diri ke Eropa – Hari Keempat dan Kelima (Habis)

Rute perjalanan hari keempat

24 April 2011, setelah melewati malam yang sangat menyenyakkan, pagi harinya kami meneruskan perjalanan menuju ke Basel, Swiss. Kota perbatasan antara Jerman dan Swiss. Tapi sebelum sampai kesana, kota pertama yang akan kami kunjungi adalah Bellinzona, sebuah kota di Swiss yang memiliki 3 kastil. Dahulu kala kastil-kastil tersebut digunakan oleh melindungi dari serangan Jerman, dan juga sebagai pendapatan karena setiap orang yang hendak melewati tembok, harus membayar semacam pajak perjalanan.

Kastil di Bellinzona

Kira-kira pukul 11 kami berangkat menuju kota Lucerne, rencana awal kami dengan cara melewati pegunungan Alpen, tapi malam sebelumnya Sabine memberitahu kami bahwa pegunungan Alpen hanya dibuka ketika musim panas. Walaupun sekarang musim semi, tapi diatas puncak gunung, salju masih tebal. Akhrinya kami memutuskan untuk melewati pegunungan Alpen menggunakan terowongan. Terowongan Gottard adalah terowongan untuk mobil terpanjang ketiga di dunia(16924 m), setelah Laerdal, Norwegia(24.510 m) dan Wushaoling, Cina(20.510 m).

Menuju Lucerne

Ketika musim panas banyak orang menggunakan terowongan ini, sistem buka tutup diberlakukan, sehingga dapat menimbulkan kemacetan berkilo-kilo meter,  butuh waktu sekitar 5-6 jam untuk melewati kemacetan. Tetapi karena sekarang musim semi, maka waktu yang dibutuhkan untuk menyebarangi terowongan tersebut cukup 20 menit saja.

Suasana pedesaan di Swiss

Setelah melewati terowongan tersebut, sampailah kami di kota Lucerne, kota yang dipenuhi dengan danau-danau, dan pemandangan yang indah. Sampai sekarang saya masih bisa merasakan sejuknya angin yang bertiup sepoi-sepoi. Di pinggir danau saya meluangkan waktu saya tiduran sebentar, di kejauhan saya bisa melihat Gunung Pillatus dan Rigi, bagian dari pegunungan Alpen.  Dalam perjalanan saya memperhatikan ada sesuatu yang unik, di jalan-jalan ada berbagai macam penunjuk jalan, untuk berbagai macam transportasi dari mobil, hingga pejalan kaki, dari roller-blade sampai sepeda.

Danau Urner, Swiss

Di dalam kota Lucerne  ada jembatan kayu yang dibuat sejak abad ke-14. Indahnya pemandangan, dan cantiknya kota, membuat kota ini terpilih menjadi tujuan wisata ke-5 pada tahun 2010 oleh Tripadvisor.

Jembatan kayu di Lucerne, Swiss

Sore harinya kami menuju kota Basel, disana.. teman kami sudah menunggu. Di kota ini kami iseng-iseng main ke stasiun kereta api Basel, sungguh ramai stasiun tersebut, yang menarik disana adalah 3 bahasa yang digunakan: Jerman, Italia, dan Perancis. Puas melihat-lihat keadaan stasiun tujuan kami selanjutnya menuju perbatasan antara 3 negara, Swiss, Jerman, dan Perancis, perbatasan tersebut berada di pinggir sungai Rhine.  Perbatasan tersebut ditandai dengan monument yang tinggi menjulang dengan 3 tanda negara.

Stasiun kereta api Basel, Swiss

Malamnya kami bertemu dengan teman kami di restoran asia, sesampainya disana kami kaget… karena  ditraktir di restoran asia *Makasih ya, Kenyo.. ^^ * Setelah kenyang, malamnya kami tidur di tempat dia

Sore hari di sungai Rhine, perbatasan antara Swiss, Perancis, dan Jerman

Keesokan harinya dalam perjalanan pulang hampir semua merasa kecapekan, sehingga jarang orang yang berbicara, ditengah kesepian itu saya kembali terngiang semua perjalanan kami, mulai dari uniknya Arles dan Avignon di Perancis, birunya pantai di deretan Cote de Azzure yang membentang dari Perancis hingga Italia, kota Milan yang seperti Jakarta, asrinya pegunungan Alpen beserta danau-danau yang menggoda kami untuk berenang.  Ini merupakan pengalaman yang tak ternilai harganya. Belum ditambah dengan orang-orang yang menemaniku selama perjalanan, dan orang-orang yang kutemui dalam perjalanan tersebut.  Alhamdulillah ^^

Cepatnya...

Tersadar dari lamunanku, mobil ini melaju sangat cepat ternyata… melebihi batas kecepatan yang diperbolehkan..   *Pelan-pelan aja Jessie…  LOL*

—-Selesai—-

  • Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. [Al-Mulk: 15]
  • Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya,….  [Al-‘Ankabuut:20]

Melarikan diri ke Eropa – Hari Ketiga

Rute perjalanan hari ketiga

Bangun pagi dengan badan yang segar memang sungguh nikmat, setelah malam sebelumnya kami tidur di mobil . Pagi yang cerah dan tidak berangin menambah mood kami. (Yeah… )
Kami berangkat dari rumah Jerome kira-kira jam 9 pagi. Harap-harap cemas, karena sebelumnya kami ngobrol-ngobrol dengan Amanda, dia berkata bahwa hari ini di daerah Mediterania bakal hujan.. huf…
Tujuan kami berikutnya adalah kota Santa Margherita Ligue, Italia. Sebuah kota nelayan di pinggir pantai italia. Dalam menuju kesana kami melewati Genova, sebuah kota industri yang sangat padat dan besar di Italia, kota ini salah satu dari daerah segitiga emas di Italia, tapi tentunya bagi penggemar Liga Italia serie A pasti pernah mendengar kota ini. Kesan saya mengenai kota ini adalah kotor, dimana-mana banyak cerobong asap, apartemen kumuh dimana banyak jemuran yang bergelantungan dapat ditemui di banyak tempat.  Bangunan di kota ini menurut saya tidak begitu indah, pilihan warna yang kusam menambah kesan tidak terawat pada bangunan tersebut.

Pengendara motor di jalan tol Genova, Italia

Waks.. ternyata tiba-tiba hujan deras di tengah jalan… ditambah dengan kemacetan di jalan lingkar kota Genova gara2 ada tabrakan. Untung saja tidak sampai satu jam kami melewati  kemacetan, dan setelah 3 jam perjalanan, sampailah kita di kota Santa Margherita Ligue, tipikal kota italia lainnya, sudut-sudut jalan berbentuk kotak. Yang menarik di Italia adalah banyak orang mengendarai sepeda motor, hal ini jarang sekali saya lihat di Belanda. Dari motor merk Jepang hingga buatan lokal pun sering dijumpai di jalanan. Tipe motor yang ada disana pun beragam, dari motor besar hingga motor scooter(tanpa gigi). Tapi model motor bebek seperti di Indonesia tidak pernah dijumpai.

Sekedar intermezzo aja,  di Belanda, pembuatan SIM untuk mobil, rata-rata membutuhkan biaya sekitar 2000 euro(atau sekitar 24 juta rupiah).  Itupun belum tentu lulus. Saya tanya orang Belanda sendiri tidak jarang mereka  membutuhkan 3-4 kali ujian sampai mereka lulus.

Membuat pizza

Kembali ke perjalanan, di kota Santa Margherita Ligue kami mencoba jajanan kuliner ala itala, yup… pasta spaghetti dan pizza. Penasaran dengan variasi spaghetti, akhirnya  saya pesan yang di Indonesia tidak ada, spaghetti  scoglio, merupakan spaghetti seafood, lengkap dengan kerang, cumi,dan ikan. Ketika saya mencoba spaghetti tersebut, ternyata rasa yang ada didalamnya lebih dari itu. Saya bisa rasakan gurihnya minyak zaitun…

Pizza dengan seafood topping

Kemudian saya coba pizza margherita.. tekstur.. dan lembutnya adonan.. mak nyus.. 😀  Dibandingkan dengan masakan Belanda? Jauh…… lebih enak masakan Italia..masakan belanda kaga ada rasanya.. ^^ (Besok weekend jadi pengen coba resep.. hm.. masak apa ya…)

Menuju Milan

Perjalanan selanjutnya adalah menuju ke utara italia, yaitu kota Milan. Sebenarnya perjalanan ke kota Milan ini agak “konyol” karena kita hanya ingin lihat bagaimana bentuknya stadium San Siro dan beli souvenir disana. Mungkin dibenak kita kota Milan itu sangat indah, hal ini mungkin benar untuk di pusat kota. Tetapi secara keseluruhan, kota ini lebih mirip dengan kota Jakarta yang bersih. Dimana gedung tinggi dibangun, jembatan layang dengan kiri kanannya spanduk-spanduk iklan. (Tapi g se keterlaluan Jakarta sih.. )

Ketika kami memasuki kota tersebut jalanan yang lengang menyambut kita, padahal ketika dalam perjalanan menuju ke kota Milan, banyak sekali penunjuk jalan yang mengisyaratkan bahwa jalanan Milan adalah jalanan yang padat dan kemungkinan macet. Jawaban dari semua ini adalah ketika kami mendekati stadion San Siro, ternyata di dalam stadion itu sedang ada pertandingan antara Inter Milan dengan Lazio.

Stadion San Siro, Milan, Italia

Sesampainya di depan stadion terdengar pengunguman bahwa Wesley sneijder mencetak gol, dan riuh penonton terdengar hingga kemana-mana. Saya ingin masuk ke stadion untuk membeli souvenir, tetapi takut setelah pertandingan bakal terjadi keramaian(maaf teman-teman g jadi dibeliin souvenir dari San siro), akhirnya kami memutuskan untuk langsung pergi ke Como.

Como merupakan kota di Italia yang terletak di kaki pegunungan Alpen. Kota ini juga merupakan kota kelahiran Alessandro Volta, penemu baterai. Objek pemandangan di kota ini adalah danau yang terdapat di dekat pusat kota.  Disana kami agak berlama-lama untuk menikmati suasana kota. Tak sadar waktu menunjukkan sudah jam 7.15, kami segera bergegas menuju ke tempat parkir  karena ada janji dengan Sabine, host dari couchsurfing. Dia tinggal di kota Arzo, Swiss yang berjarak kira-kira 40 menit dari kota Como.

Setelah melewati tapal batas antara Swiss dan Italia tak terasa beberapa menit kemudian kami sampai dirumah dia, kami terkagum-kagum dengan rumahnya, rumah dia terletak di sebuah desa kecil, dimana rumah itu merupakan bangunan tua yang dibangun sejak 1726. Yang asik lagi ternyata didalam rumah itu terdapat 8 keluarga, bayangkan… !

Saya sangat terkejut malam itu karena kami disuguh dengan makan malam yang dibuat sendiri oleh Sabine. Zucchini, semacam omelet dengan keju kambing, tabbouleh yang terbuat dengan bahan bulgur, tomat, bawang dan mint. Belum selesai disitu, untuk penutupnya Sabine membuatkan apple pie.. hm… sangat nikmat… ^^ (menambah antrian resep yang harus dicoba sendiri)

Bulgur

Selesai makan malam yang nikmat, kami ngobrol-ngobrol dengan Sabine, ia bercerita bagaimana keadaan di Swiss secara umum, dan bagaimana swiss sukses mengelola  3 bahasa nasionalnya, perancis, jerman, dan italia(g semudah yang dibayangkan) . Yang saya heran tentang dia adalah hobinya, walaupun hidupnya di pegunungan ternyata hobinya  adalah menyelam di laut, dari laut karibia, hingga pulau sipadan di Malaysia pernah dia selami. Indonesia? Tentu saja.. ambisi terbesar dia adalah menyelam di Bunaken ^^

Melarikan diri ke Eropa – Hari Kedua


Rute perjalanan hari kedua

Setelah malam yang melelahkan karena tidur di dalam mobil(bahkan ada yang tidak bisa tidur). Perjalanan hari kedua diteruskan menuju kota Avignon, yaitu kota di bagian selatan Perancis. Kota ini dulunya salah satu pusat agama katolik. Oleh karena itu, disana juga terdapat gereja yang besar (bagi saya lebih mirip kastil)yang merupakan objek wisata utama di kota ini. Jalanan untuk masuk ke dalam komplek gereja(yang besarnya satu kota) itu sangat kecil, dan hanya bisa untuk satu mobil. Jalanan satu arah dan dan besarnya pusat kota membuat  seolah-olah di dalam kota tersebut seperti labirin yang besar.

Avignon

Kota ini juga terkenal dengan jembatan kunonya yang dibangun pada tahun 1177. Jembatan ini sebagian masih utuh, dan sebagian lagi sudah hancur, jembatan tersebut kelihatan sangat menawan. Sayang sekali kami tidak bisa naik ke jembatan tersebut. Setelah menikmati keindahan jembatan dari bawah, kami kembali lagi ke mobil dan meneruskan perjalanan.

Dalam perjalanan kami juga perhatikan bahwa tanaman di daerah selatan eropa berbeda dengan eropa bagian utara, tanaman tersebut lebih besar dan variasinya lebih banyak. Kebun anggur, basil, zaitun pun menghiasi di sebelah kanan kiri jalan. Tidak heran jika orang Italia atau Perancis punya resep masakan yang enak-enak, karena bahan mentahnya bisa ditanam dimana-mana.

Arles

Setelah 2 jam perjalanan dari Avignon sampailah kami di kota Arles, kota ini terletak lebih ke selatan lagi. Sesampainya di kota itu, kami terheran-heran, karena jalanan di pusat kota ditutup. Ternyata di Arles baru diselenggarakan adu banteng di Gedung Amphitheater.  Kenapa di Perancis ada adu banteng? Pertanyaan yang menarik… Hal ini mungkin dikarenakan letak kota Arles yang berdekatan denagn Spanyol. Bahkan bangunan lama di kota tersebut dan lagu yang dinyanyikan oleh musisi jalanan disana sangat mirip dengan Spanyol. Jika tidak ada keterbatasan waktu, mungkin kita akan tinggal di kota ini lebih lama, sayangnya kita terbatasi oleh jadwal.

Nice, Perancis

The Côte d’Azur atau dalam bahasa inggris disebut French Riviera. Merupakan deretan pantai di bagian tenggara Perancis dan memanjang sampai ke Italia. Cannes tempat dimana diadakan festival film ada disini juga, tetapi kota terbesar dalam deretan itu adalah Nice di Perancis.

Siang itu kami terkagum-kagum dengan kaeadaan kota-kota disana. Tampaknya orang yang tinggal disana adalah orang-orang kaya semua. Dari mobil hingga bangunannya tampak indah. Arsitektur bangunan yang kental dengan jendela panjang, dan warna bagunan orange kecoklatan membuat mata terpana karenanya. Bangunan-bangunan itu pun berdiri secara unik, didirikan di tepi-tepi tebing di pinggir pantai yang menambah daya tarik tersendiri.

Dalam kota Nice, seakan-akan kita bukan berada di Eropa lagi, tetapi lebih mirip dengan Miami atau California, mobil-mobil mewah dan palem di pinggir jalan menghiasi kota tersebut.  Masuk lebih ke dalam lagi, bisa kita temui alun-alun mediterania yang indah, lengkap dengan musisi jalanan di kota tersebut. City centrum kota tersebut sangat ramai dengan wisatawan, tetapi dalam perjalan kali ini saya sangat jarang menemui turis dari Asia. Kebanyakan di kota itu wisatawan dari Eropa.

Monaco

Kalau teman-teman pernah mendengar GP Monaco, maka kota ini tidak jauh dari kota Nice, yang merupakan tujuan kita selanjutnya, hanya 40 menit waktu perjalanan.  Jalan yang menghubungkan kedua kota ini sangat indah dan menantang, menyusuri tebing-tebing sepanjang pantai dimana di sebelahnya sudah berbatasan dengan pinggir laut.

Bersama Jerome

Malamnya kami menginap di rumah Jerome(gratis :P). Jerome adalah penduduk asli Nice dan seorang petualang juga. Hampir semua benua pernah dia jelajahi. Disana kami juga bertemu 3 orang anggota couchsurfing yang menginap disana. 2 orang dari Amerika John dan Amanda, serta Agnieszka dari Polandia, sangat seru ngobrol-ngobrol bersama mereka.

Melarikan diri ke Eropa – Hari Pertama

Perjalanan kami dimulai pada hari kamis tanggal 21 april jam 5 sore. Hari itu cuaca sangat cerah di Eindhoven, sehingga kami berharap kota-kota tujuan kami akan cerah juga. Tujuan pertama kami adalah kota Avignon, Perancis. Kota ini terletak di bagian selatan perancis yang berjarak kurang lebih 1000 km dari Eindhoven.

Dalam perjalanan, kami menjumpai kemacetan di sekitar kota Maastricht di Belanda, tetapi beruntung jam 7 malam kami telah tiba di Belgia. Hanya dalam beberapa menit kemudian, kami memasuki luxembourg. Karena negara ini adalah negara yang kecil juga, tidak butuh waktu  lama kami sampai di Perancis.

Rute perjalanan hari pertama

Di Perancis perjalanan terasa lama, jarak antara kotanya lumayan jauh, kota Metz, dan Nancy adalah kota terakhir yang kami lihat, setelah itu kami memasuki jalan tol yang tidak ada kotanya sama sekali.

Matahari mulai tenggelam, langit mulai gelap, dan yang bisa saya lihat hanyalah pepohonan pinus. Saat itu saya melamun bagaimana semua ini bisa terjadi.  Semua ini berawal dari  2 bulan yang lalu, ketika itu saya berbincang-bincang dengan Amel, Jessie, Qonita, dan Reyhan mengenai jalan-jalan di musim semi ini. Tidak ada yang yakin bahwa acara ini bisa terlaksana karena kesibukan kami di universitas.

Sedikit demi sedikit kami mulai menyusun rencana perjalanan. Google map kami gunakan untuk menentukan rute perjalanan dan menghitung lama perjalanan.  Setelah rute perjalanan kira-kira sudah terbentuk. Kami kemudian menghitung total anggaran perjalanan menggunakan viamichelin, di situs ini kita bisa mengira-ngira, berapa bahan bakar yang akan digunakan, beserta jalan tol mana yang akan kita lalui. Untuk menghemat lagi, kami berusaha mencari dimana kami bisa tinggal secara gratis, menggunakan couchsurfing, beruntung kami mendapatkan orang yang berbaik hati menampung kita. Lamunan saya berhenti, saat itu Qonita berkata bahwa bulannya sangat indah, benar.. Saat itu bulan berwarna merah, karena di daerah situ jarang ada kota, maka cahaya bulan dan bintang lebih berpendar.

Renault Scénic yang senantiasa setia menemani kami

Sekitar jam 1 malam sampailah kami di kota Lyon, Lyon merupakan salah satu kota besar di Perancis, dan merupakan salah satu kota industri. Lampu malam di kota itu sangatlah indah dipadu dengan arsitektur bangunan ala Perancis membuat suasana kota itu semakin  anggun.  Karena sudah tidak kuat lagi tuk bangun akhirnya saya tidur. Saat itu Reyhan masih mengendarai mobil hingga jam 3 pagi dimana dia sendiri juga sudah kecapekan. Akhirnya kami istirahat di daerah Valence, Perancis. Walaupun kami tidak sampai kota Avignon kami sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh.