"Hope and Believe"

Archive for May, 2014

My Lovely Thesis – Bagian pertama

Halo.. ketemu lagi.. kali ini Angga mo cerita tentang thesisnya sewaktu kuliah di TU/e, Eindhoven, Belanda. Tetapi karena tema ini cukup besar, maka aku putuskan tuk membaginya jadi beberapa sudut pandang dan bagian. Beberapa waktu lalu Angga pernah berbagi romantika saat mengerjakan thesis di  “Memori…”.  Yang lebih menekankan keadaan emosi Angga pada saat mengerjakan thesis.

Kali ini Angga ingin bercerita dari sudut pandang yang lain. Bagian pertama ini memperkenalkan latar belakang dan beberapa istilah yang digunakan. Bagian kedua bakal menceritakan kenapa sih doi ini keren.. hehe.. *narsis*

Aku sangat tertarik dengan process mining, yaitu teknik dimana kita bisa melakukan analisis terhadap business process berdasarkan log event.  Misalkan saja ada organisasi, contoh Pemda(pemerintahan daerah) mempunyai business process mengenai perjinan mendirikan bangunan. Business process tersebut terdiri dari beberapa event, yaitu submit document, verify document, check house, decision, dan archive. Kejadian-kejadian ini ini akan dicatat oleh komputer dalam sebuah event log.

Workflow

Workflow

Dalam dunia sehari-hari diary(catatan harian) merupakan event log, apa yang telah dilakukan orang tersebut merupakan event. Sedangkan business process merupakan kumpulan apa-apa yang telah dilakukan oleh orang tersebut. Mudahnya, process mining merupakan teknik untuk menganalisis buku harian 😉

Supervisor thesisku, yaitu Wil van der Aalst , semacam godfather di bidang ini. Menurut Google Scholar, Wil adalah salah satu ranking tertinggi computer scientist di Eropa setelah Andrew Zisserman(saat itu dia adalah yang pertama).  Itu pendapat masyarakat umum, beda pula pendapat teman-teman:

“He is really picky… really… really picky…and I mean it…”(Santiago, 2013)

“Why you make your life more difficult?” (Manuel, 2013)

“I told  you not to take him as a supervisor. Why Angga?” (Anonymous, 2013)

“Wil van der Aalst?” *orangnya pingsan tiba-tiba pingsan dan keluar busanya..* G mungkin banget klo yang ini.. Hahaha…!!!

Siang itu aku masuk ke kantor Wil. Dia menanyakan bagian mana yang aku suka dalam process mining. Aku jawab bahwa aku tertarik untuk bagian performa, meningkatkan efisiensi di suatu organisasi.

Wil berkata bahwa untuk mengerjakan thesis ini dibutuhkan kemampuan programmnig yang kuat. Akan tetapi aku lemah dalam pemrograman berorientasi objek. Diberikan waktu sehari bagiku untuk memikirkan ulang apakah aku ingin melakukannya. Tentu saja aku menyanggupinya… “Uh-oh… not a smart move Angga.. Welcome to the most difficult time in your life”.

 

–Bagian pertama selesai–

Budaya dan Bahasa

“Halo apa kabarnya?”

“Hoe gaat het?

“How are you?”

“Pripun kabere?”

Yup… ini merupakan contoh sederhana saja bagaimana orang menanyakan kabar dalam berbagai bahasa.  Sebagian besar hidupku kuhabiskan di Jogjakarta, Indonesia. Besar dan tumbuh di tempat itu membuatku pandai untuk berbicara dalam 2 bahasa, yaitu: Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia.

Seiring dengan waktu aku mulai belajar Bahasa Inggris yang mempunyai hubungan yang sangat jauh dari kedua bahasa itu.  Di awal kuliahku mulai belajar Bahasa Jepang, karena saat itu aku tertarik akan budaya Jepang. Belum selesai belajar Bahasa Jepang, ternyata aku mendapat kesempatan untuk belajar di negeri Belanda, sehingga aku juga menyempatkan diriku untuk belajar bahasa Belanda selama beberapa saat. Disanalah aku juga bertemu dengan banyak orang di penjuru dunia,  dari Tiongkok, Jerman, Amerika latin, Maroko, dll. Masing-masing mempunyai bahasa yang unik pula. Kebetulan juga di saat itu pulalah aku merasakan bahwa aku ingin mempelajari agamaku, yaitu agama Islam, sehingga aku juga berusaha untuk menguasai bahasa Al-Quran, yaitu Arab Klasik(agak beda ama bahasa Arab sekarang).

Dari pengalamanku yang telah bertemu banyak orang dan berusaha untuk belajar berbagai bahasa, aku menemukan pola yang menarik. Misalnya saja kebudayaan Jawa itu terkenal dengan budaya kesopanannya dan menghargai orang yang tua/ yang dianggap lebih tua. Sehingga dalam Bahasa Jawa ditemukan pula tingkatan bahasa, bahasa ngoko, bahasa krama, bahasa krama inggil. Berbeda dengan Bahasa Indonesia yang latar belakangnya adalah persamaan derajat, sehingga dalam Bahasa Indonesia tidak mengenal tingkatan.

Tetapi jika aku berbicara dalam Bahasa Indonesia, aku pun masih punya karakter yang khas, yang tidak setiap orang Indonesia lainnya menggunakannya. Di utara Jogja terdapat gunung, sehingga dalam memberikan arah jalan bagiku sangat mudah untuk menggunakan arah mata angin, karena aku sudah terbiasa memetakan secara spasial.

Di satu sisi aku juga belajar bahasa Asia lainnya, yaitu Bahasa Jepang. Dibandingkan dengan Bahasa Indonesia, Bahasa Jepang mempunyai grammar yang menggunakan kata keterangan waktu untuk membentuk kalimat. Hal ini juga terjadi di Bahasa Eropa, seperti Belanda atau Inggris. Selama di negara tersebut aku menyadari bahwa lama hari itu bisa berubah tergantung pada waktunya, misalkan saja musim panas matahari bisa lebih lama bersinar daripada musim dingin. Bandingkan dengan Indonesia, Malaysia yang relatif waktu sinar matahari relatif stabil. Beda banget kan?? Aku melihat negara yang mempunyai 4 musim, cenderung mempunyai pola bentukan kalimat masa depan, masa lampau.

Selama di Belanda aku juga pernah bekerja sama dengan orang Asia dan Eropa. Disana aku juga mulai membandingkan… dan memang orang Asia itu lebih supel dan simpel dibanding orang Belanda (coba aja belajar grammarnya Bahasa Belanda…. ).

Tuk Arab Klasik itu juga istimewa… Pada sekitar tahun 500-an kekuatan dunia terbagi jadi 2, Romawi di barat, dan Persia di timur, kemudian di tengah-tengah terdapat jazirah arab. Sebagai super power tentu saja mereka ingin memperluas kekuasaan mereka. Tetapi mereka tidak pernah sampai ke Saudi Arabia, kenapa? Mudah aja dulu Bangsa Arab g punya apa-apa cuma padang pasir doang. Jadinya mereka males tuk kirim prajurit mereka kesana. Yang terjadi bangsa Arab terisolir, bahasa mereka pun menjadi “suci” tidak terkontaminasi. Akibat dari gurun sejauh mata memandang, bahasa Arab Klasik pun berkembang menjadi bahasa yang “kaya”, yang dapat menceritakan ke-5 indera dengan sempurna, sangat-sangat detail, penuh aturan, dan penuh imajinasi. Sehingga orang yang bisa membuat puisi pastilah jenius dan diangkat menjadi kepala suku. Orang berkata-kata akan dikritik hingga ke level  mikro. Dengan “keamanan” bahasa seperti itu Al-Quran diturunkan secara verbal. Alhasil? Sepengetahuan penulis sampai sekarang belum ada manusia yang bisa membuat karya dengan Bahasa Arab yang mirip seperti Al-Quran.

Menurut penulis sebenarnya kalau kita belajar bahasa, kita tidak hanya mempelajari bahasanya. Tetapi kita bisa belajar bagaimana budaya bisa mempengaruhi bahasa tersebut, bagaimana alam mempengaruhi bahasa. Ataupun kita bisa mempelajari bagaimana cara berpikir orang tersebut 😀

A Place to Call Home

It was almost pitch black.. “So many people… and so many vehicle… ”   Traffic jams were everywhere as far eyes I could see from my office on 23rd floor. Time showed it was already 17.30, time to go home.

Suddenly the thick cloud turns into rain cats and dogs. I opened my umbrella and walked home, I saw there were many street vendors, the street was lively as ever. I heard athan for Maghrib was announced in all places. I visit one of the street vendors to buy drink to end my fasting.  Then I continued my journey to go home.  As I open the door I usually have dinner with family and talk about what we have done today.

Jakarta from 23rd floor

Jakarta From Alamanda Tower 23rd Floor

My life is so simple isn’t it? For some people, what I just experienced maybe just another ordinary day, a so so day, but for me this is priceless. There was a time where I saw nobody on the street although it is only around 20.00. Most of the shops are closed by 18.00 When it rains the temperature can drop until 1 C… Yup.. drenched with cold water at that temperature was no joke.

Since I am Moslem, there are mandatory daily prayers I need to perform based on position of the sun. In Netherlands it is challenging to perform daily prayer, for example in May the Fajr time at 03.500 and Isha at 23.21. Also, doing fasting is really challenging, the duration is around 17 hours… (+ you need to go everywhere by bike)

Shalat schedule

Shalat Schedule

In the end, the most difficult thing to overcome not the weather, nor the challenge of praying.  But the moment when you got home there was nobody to talk to, no smile when you opened the door, just a cold dark room waiting for you.  I used to live in Netherlands for almost 4 years without family and during that time I never meet with my family.  It was one of the hardest moment in my life.

I am really grateful that I already return to Indonesia and reunite with my family. All those places in Europe may be just an ordinary one, but what makes it special are friends which help me  during those difficult time and because of you I could  find a place to call home.

To all my friends I just want to say thank you from the bottom of my heart.

Friends and Families.

Friends and Families.