"Hope and Believe"

Posts tagged ‘perbandingan’

Ketika Timur Bertemu Dengan Barat bagian-4(habis)

Meneruskan cerita sebelumnya, saya ingin mengangkat beda kebudayaan dan cara pandang antara orang timur dengan orang barat pada umumnya. Bagian ini merupakan bagian terakhir dan merupakan kesimpulan dari 3 postingan saya sebelumnya.

Icon yang ada di blog ini dibuat oleh Liu Yang, seorang warga negara Cina yang pernah tinggal di Jerman. Dimana sisi merah adalah kebudayaan orang Asia pada umumnya, dan biru mewakili kebudayaan orang Eropa.

Atasan (Si #bos)ย 

Si #bos

Di Eropa atasan itu setara sama kita, dalam kehidupan kampus, saya memanggil dosen dengan nama pertama dari pak dosen seperti memanggil teman saja, tanpa embelan Pak, Doctor, Prof., bla.. bla.. dan ini adalah hal biasa.. (mungkin klo perlu saya kirim email dengan kaya gini juga ya.. “What’s up Doc.. ” #dipentung). Berbeda dengan kebudayaan Asia, si #bos merupakan sosok yang dominan, diatas angin. Klo dapet bos yang enggak enak, bisa berabe semua urusan, tapi…. kalau dapet bos yang ok, yang bisa melindungi bawahan, dan jadi panutan bawahan, ada kemungkinan pula bahwaย  si bawahan bisa berkembang lebih cepat…

Antrian

Antrian

Hehehe… di Belanda saya jarang melihat orang yang berdesak-desakan, atau saling berebut. Disatu sisi kita dapet namanya ketertiban. Tapi entah kenapa saya koq merasa sang penjual kurang cekatan dalam melayani penjualnya alias lelet, karena terbiasa melayani satu orang per satu waktu. Hebatnya orang Asia menurut saya kecepatan pelayanannya dan cekatannya sang penjual.

Kesimpulan

Sebenarnya jika kita membahas perbedaaan antara 2 kebudayaan ini tidak ada habisnya, dan mungkin ada yang berpendapat bahwa kedua kebudayaan ini bertentangan. Tetapi dalam pikiran saya, kedua budaya ini sebenernya saling melengkapi, karena tidak ada yang sempurna. Terlalu terus terang tanpa memperhatikan sikon bakal menyakiti hati orang lain, terlalu berbasa basi juga bakal menjemukan. Terlalu mandiri jadinya individualisitis, terlalu sosial akhirnya tidak mempunyai waktu untuk diri sendiri, dll. Titik tengah haruslah dicari, tetapi jika ada keunggulan di satu sisi, keunggulan itulah yang diambil. Tetapi ada pula yang netral seperti mandi di siang hari atau malam hari, mo makan berat ato ringan,ย  mo milih yang manapun enggak masalah.

Komunikasi yang baik adalah elemen terpenting untuk menjembatani kedua sisi ini. Karena emang dari awalnya mereka berbeda. Masing-masing haruslah sadar bahwa mereka memang berbeda, perbedaaan sudut pandang yang menyebabkan salah paham sangat mungkin terjadi.ย  Masing-masing harus mencoba untuk melihat dari sudut pandang orang lain entah itu sudut pandang Eropa ataupun Asia, atau sudut pandang yang lain. Bisa saja kedua belah pihak ini mempunyai maksud yang sama, dan kedua belah pihak ini menginginkan yang terbaik cuma caranya aja yang beda ๐Ÿ˜€

—selesai—

  • Secara pribadi saya ingin meminta maafย  kepada teman saya atas segala kesalahpahaman yang terjadi karena sempitnya sudut pandang saya. *maklum agak lelet mikir kaya ginian* ๐Ÿ˜€
  • “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. ” [Al-Hujuraat:13]

Ketika Timur Bertemu Dengan Barat bagian-3

Meneruskan cerita sebelumnya, saya ingin mengangkat beda kebudayaan dan cara pandang antara orang timur dengan orang barat pada umumnya. Kali ini tema besarnya adalah dalam kehidupan sehari-hari.

Icon yang ada di blog ini dibuat oleh Liu Yang, seorang warga negara Cina yang pernah tinggal di Jerman. Dimana sisi merah adalah kebudayaan orang Asia pada umumnya, dan biru mewakili kebudayaan orang Eropa.

Makanan

Makanan yang terkenal

Di Eropa, salah satu makanan yang terkenal adalah makanan Asia, percaya atau tidak, jumlah restoran Asia di kota Eindhoven berimbang dan mungkin lebih banyak daripada jumlah restoran masakan eropa lainnya, termasuk dibandingkan dengan junk food. Siapa yang tidak kenal dengan masakan Indonesia di Belanda. Masakan Indonesia dianggap masakan mewah disini. Sedangkan jika saya bandingkan di negara Indonesia, orang Indonesia kliatannya lebih “bangga” untuk memakan masakan barat. Entah itu dalam bentuk restoran junk food, maupun restoran dengan menu masakan Eropaย  yang mahal di hotel berbintang 5… (inilah yang dinamakan dengan Ironis) ๐Ÿ˜€

Jalan-jalan

Jalan-jalan

Yup.. orang Eropa lebih jarang untuk mengabadikan momen jalan-jalan mereka dibanding orang Asia. Jalan-jalan lebih sering terlihat bahwa kamera-nya yang bagus-bagus milik orang Asia. Ketika saya melakukan perjalanan ke Swiss dan sempat menginap di rumah penduduk setempat, waktu itu saya membuat foto hampir semua keadaan disana, dari rumah dia, bagaimana dia membuat masakan, hingga hidangan itu matang. Secara spontanitas dia berkata “Wah.. kalian seperti orang Jepang saja” –> *dalam hati kelihatannya ini tipikal orang Asia deh.. hehehe.. ๐Ÿ˜€ *

Restoran

Restoran (bukan bar loh.. )di Eropa relatif lebih sepi dari suara-suara orang bicara dengan keras., karena orang Eropa ingin melepas penat mereka secara tenang, tanpa terganggu privasi mereka, berbicara dengan pasangan dengan menikmati candle light dinner(–>berlebihan… ). Sedangkan di Asia, restoran sangatlah ramai, dari pelanggan yang saling berbicara, hingga pelayan yang sibuk melayani. Kenapa demikian? Karena biasanya orang Asia lebih suka melepas penat mereka seharian dengan cara berkumpul menikmati hidangan dengan teman-teman satu divisi(atau lebih) kantor atau keluarga besar(agak berlebihan juga) ๐Ÿ˜€

Makanan sehari-hari

Makan sehari-hari

Ketika saya datang ke kampus membawa bekal makanan lengkap. teman-teman saya yang dari Eropa langsung berkomentar, “Wah.. itu untuk makan apa? “Bagi saya ini makanan pagi, siang ama malam. Teman-teman saya menjawab “Bagi kami itu makan malam… ” Yup.. orang Eropa biasanya hampir tidak pernah memasak. Menu mereka: pagi sereal/roti, siang menu roti dan buah, malam barulah mereka memasak(gambarnya kurang mencerminkan ๐Ÿ˜€ ).

Mandi

Mandi… Hahaha… Menurut saya Orang Eropa jarang mandi… kalaupun mandi setiap hari sekali yang biasanya mereka lakukan pada pagi hari. Bagi orang Asia Timur, mirip juga sehari sekali, tetapi mereka lebih suka melakukan mandi pada malam hari sebelum mereka tidur. Bagi orang tropis seperti Indonesia mungkin kaget mendengar hal ini, tetapi setelah sampai disini saya bisa memaklumi, dikarenakan cuaca yang sangat dingin, dan udara yang kering, jadi kita sukar tuk berkeringat(saya mandi setiap hari loh.. klo enggak males ๐Ÿ˜€ )

—bagian 3 selesai—

Ketika Timur Bertemu Dengan Barat bagian-2

Meneruskan dari bagian pertama, saya ingin mengangkat beda kebudayaan dan cara pandang antara orang timur dengan orang barat pada umumnya. Icon yang ada di blog ini dibuat oleh Liu Yang, seorang warga negara Cina yang pernah tinggal di Jerman. Dimana sisi merah adalah kebudayaan orang Asia pada umumnya, dan biru mewakili kebudayaan orang Eropa.

Saya

Saya

Orang Eropa melihat dirinya adalah suatu entitas tersendiri, dan merupakan pusat dari segala-galanya. Sedangkan orang Asia melihat dirinya adalah suatu bagian dari yang lebih besar, misalkan aja suatu kelompok di masyarakat. Oleh karena itu orang Eropa dalam melakukan sesuatu lebih suka melakukannya sendiri, lebih mandiri, sedangkan orang Asia lebih suka melakukan sesuatu secara bersama-sama. Karena itu dari sudut mata orang Asia, orang Eropa lebih terkesan egois dan individualistis(yang mungkin memang begitu ๐Ÿ˜€ )hehehe…

Kontak

Kontak

Karena terbiasa dengan kemandiriannya, maka orang Eropa mempunyai sedikit kontak dibanding orang Asia. Selama saya tinggal di Belanda, saya tidak pernah melihat kontak teman orang Belanda di jejaring Facebook lebih dari 1000. Rata-rata mereka mempunyai jumlah teman sekitar 100-200 orang. Bagi orang Belanda ada sesuatu yang berbeda antara teman dengan kolega. Teman lebih bisa diajak hang-out, sedangkan kolega hanya pertemanan di sebatas lingkup tertentu, contoh: teman satu kantor=kolega, teman satu kelas=kolega. Jadi.. jangan kaget, jika orang disini jarang bertukar no handphone, atapun pin BB karena kita hanya menjadi teman satu kantor, atau temen satu kost.

Pesta

Pesta

Yup.. dari gambarnya sudah keliatan banget… Disaat pesta orang Eropa lebih suka berkumpul menjadi kelompok-kelompok kecil, sedangkan orang Asia menjadi satu kelompok besar.ย  “The more the stronger we are” Saya sendiri lebih tetap lebih suka untuk berkumpul bersama-sama.

—bagian 2 selesai—

Ketika Timur Bertemu Dengan Barat bagian-1

Beberapa saat yang lalu saya posting tentang bahwa tingkah laku orang yang tinggal di luar negeri sudah mengalami perubahan, khususnya saya yang dulunya orang Asia, kemudian pergi ke Eropa yang kebudayaannya hampir bertolak belakang.

Secara perlahan tapi pasti perubahan ini memberikan dampak, mungkin bagi saya dan teman-teman yang tinggal di luar negeri tidak merasa perubahan itu. Tetapi perubahan yang terjadi ini sangat tampak jelas dilihat dari sudut pandang teman-teman di negara asal yang jarang berinteraksi dengan kita dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh beberapa saat yang lalu kesalahpahaman terjadi. Saat itu saya ingin membuat suatu rencana dengan teman saya dari negara asal, karena terbiasa dengan tepat waktu disini. Saya membuat rencana yang detail, dan jika ada ketidak cocokan dengan suatu pendapat saya bercerita terus terang tanpa memperhatikan perasaan teman saya tersebut. Dilihat dari sudut pandang teman saya, saya orangnya enggak sabaran dan susah diajak berdialog #tepokJidat ๐Ÿ˜€

Saya ingin mendefinisikan lebih detail mengenai masalah yang dapat menimbulkan kesalahpahaman ini lebih luas, tidak terbatas hanya pada masalah itu. Icon yang ada di blog ini dibuat oleh Liu Yang, seorang warga negara Cina yang sekolah di Jerman. Dimana sisi merah adalah kebudayaan orang Asia pada umumnya, dan biru mewakili kebudayaan orang Eropa.

Emosi

Emosi

Orang Eropa itu.. lebih gampang mengungkapkan perasaan negatifnya, ketika dia tidak suka dengan sesuatu langsung terlihat dengan di raut mukanya. Sedangkan orang Asia bisa lebih menyembunyikan perasaannya. Jadi… ketika orang Eropa melihat si orang Asia ketawa-ketiwi, dia akan menganggap semuanya baik-baik aja(yang sebenernya tidak) –>bisa bayangin yang akan terjadi selanjutnya kan.. ๐Ÿ˜›

Waktu

Waktu

Ini juga perbedaan yang tampak sangat mencolok… Orang Eropa lebih tepat waktu dalam melakukan sesuatu, khususnya janji, ataupun perencanaan kegiatan. Sedangkan Orang Asia punya kecenderungan tuk punya “Jam Karet”. Momen #tepokJidat ketika si Eropa menganggap bahwa si Asia tidak serius dalam membuat janji pada si Eropa, sedangkan si Asia menganggap si Eropa terlalu kaku dan kurang fleksibel. Bagi saya yang tinggal di Eropa, jika ditanya seberapa besar arti “1 menit” adalah ketika ketinggalan bus saat turun salju lebat dengan angin kencang, dan bus berikutnya datang 1 jam lagi… (sungguh menyakitkan ๐Ÿ˜€ )

Pendapat

Pendapat

Dalam memberikan pendapat Orang Eropa lebih “to the point”, ketika dia mengatakan tidak, berarti tidak, ya berarti ya. Orang Asia ketika memberikan pendapat ingin menjaga perasaan yang diajak bicara, sehingga ketika ingin mengatakan sesuatu yang mungkin tidak berkenan bagi lawan bicaranya, ia akan memperhalus kata-kata. Momen #tepokJidat yang bisa terjadi adalah ketika orang Asia menganggap si orang Eropa enggak sopan, dan dalam sudut pandang si Eropa, si Asia terlalu banyak “bumbu” dalam menceritakan sesuatu.

Masalah

Masalah

Ketika ada masalah Orang Eropa lebih suka untuk menghadapinya secara langsung, sedangkan orang Asia lebih suka untuk menghindari permasalahan. Untuk tema ini saya lebih cenderung untuk mendukung kebiasaan orang Eropa. Menurut saya, dengan menunda masalah bukan berarti masalah itu terpecahkan, tetapi masalah ini mungkin muncul lagi di masa depan mungkin masalah yang sebenarnya itu kecil bisa menjadi lebih besar, ataupun dibarengi dengan masalah-masalah yang lain ๐Ÿ™‚

—bagian 1 selesai–